Tapi, seandainya, sekalipun setelah dia ber-oposisi, tapi jumlah anggota yang terbanyak mengambil suatu putusan yang bertentangan dengan pendapatnya sendiri, maka dia harus tunduk pada putusan yang diambil itu dan sebagai anggota ataupun pemimpin dia harus menjalankan putusan tsb. Jika tidak demikian tidaklah mungkin dihimpun dan dipusatkan kekuatan yang bulat-padu dan massal revolusioner dari partai. Tetapi perubahan cara berfikir ini biasanya tercecer oleh perubahan ekonomi.

Sesuatu partai dimana setiap anggotanya tetap bersitegang-leher bergantung kepada pendapat masing-masing sendiri-sendiri saja dan mensabot pelaksanaan dari putusan partai, tidak akan memiliki daya dan kekuatan sesuatu apapun. Umunya bangsa kita hidup dengan penghidupan lahir modern di zaman kapitalistis, tapi caranya berfikir masih kuno, masih tinggal di zaman dahulu seperti menganut Mahabrata, pelbagai kepercayaan dan tahayul kepada hantu, jin, kesaktian gaib, batu keramat dll, masih terus seperti kanak-kanan dan berfikiran fantastis.

Putusan yang “setengah betul”, tetapi dengan gembira dikerjakan oleh seluruh barisan lebih baik dari pada keputusan yang “bagus sekali” tetapi dikhianati oleh seluruh anggota.

aksi dating terlampau-85

Tujuan politik, ekonomi dan sosial yang revolusioner dari satu partai untuk sesuatu negeri yang tertentu dan jalan yang ditempuh bersama, diterangkan dengan “program nasional” yang revolusioner.

Ialah penunjuk jalan bagi partai dan Perihal program nasional kita dan sifat-sifatnya yang umu sudah cukup. Partai itu menjalankan tujuan dan pelopor (Van-guarde) pergerakan di segala tingkatan revolusi.

Ia mesti “membuktikan dengan perbuatan” bahwa ia menjalankan keputusan itu dengan betul dan setia terhadap partai.

Perbuatan itu biasanya berupa seperti mencari kawan, dalam surat-surat kabar partai, kursus, serikat pekerja dan mengerjakan administrasi dan organisasi partai.

Penglihatannya lebih jauh dan senantiasa berjuang dibarisan depan sekali da karena itu ia menjadi “kepala dan jantung” yang revolusioner........... Yang berjuang dinegeri-negeri kolonial itu terutama sekali kaum buruh dan tani revolusioner. Agitasi itu mesti didasarkan kepada penghidupan massa yang sebenarnya. Kita harus menunjukkan kemerdekaan dengan alasan yang sebenarnya.

Di Indonesia borjuasi bumiputera tak dapat memimpin, moril dan materiil. Kita harus menerangkan semua penderitaan rakyat sehari-hari seperti gaji, pajak, kerja berat, kediaman bobrok, perlakuan orang atas yang menghina dan kejam.

Tapi kedua disiplin itu berbeda dalam hal, bahwa disiplin revolusioner itu bukanlah “ketaatan-mati”.

Sedangkan Komando Pusat Militer tidak menghendakkan dari para prajurit, bahwa mereka mesti mengerti perintah yang dikeluarkan, maka bagi Pusat Pimpinan Revolusioner adalah syarat yang pertama-tama bahwa para anggota harus dengan sempurna mengerti sepenuhnya tentang putusan yang mereka mesti kerjakan itu !

Tak boleh kita harapkan, masssa akan masuk ke dalam perjuangan karena didorong cita-cita saja.